Pendle: Memahami Yield Trading, PT, YT, Tokenomics, dan Risiko

Ilustrasi Lukisan Pendle yang menggambarkan pemisahan principal dan yield melalui PT dan YT. yesetoy


Pendle dibangun dengan gagasan yang cukup spesifik: yield dari sebuah aset dapat dipisahkan dari aset pokoknya, kemudian diperdagangkan secara terpisah. Dengan pendekatan ini, seseorang tidak harus menerima principal dan yield sebagai satu paket. Ia dapat memilih eksposur terhadap pokok aset atau terhadap pendapatan yang dihasilkan aset tersebut.

Konsep tersebut menjadi dasar Pendle V2. Aset yang menghasilkan yield terlebih dahulu distandardisasi melalui Standardized Yield (SY), kemudian dipisahkan menjadi Principal Token (PT) dan Yield Token (YT). PT mewakili bagian pokok, sedangkan YT memberikan hak atas yield, rewards, dan points sampai tanggal maturity.

Cara kerjanya dapat dibayangkan seperti memisahkan sebuah investasi menjadi dua hak ekonomi. Satu pihak mendapatkan hak atas nilai pokok pada akhir periode, sementara pihak lain mengambil hak atas pendapatan yang dihasilkan selama periode tersebut. Pendle kemudian menyediakan pasar agar kedua hak tersebut dapat diperdagangkan.

PT dan YT

PT adalah bagian yang lebih mudah dipahami. Pemegang PT dapat menebusnya dengan accounting asset pada saat maturity. Karena pemegang PT tidak mendapatkan variable yield maupun points dari underlying selama periode tersebut, PT biasanya diperdagangkan dengan harga di bawah nilai aset yang akan diterimanya pada maturity. Selisih tersebut menjadi dasar fixed yield yang terlihat pada pasar Pendle.

YT mengambil sisi yang berbeda. Pemegang YT memperoleh yield dari underlying sampai maturity. Karena harga YT hanya sebagian dari nilai underlying, perubahan yield dapat menghasilkan perubahan persentase yang jauh lebih besar terhadap posisi YT. Pendle sendiri menjelaskan karakter ini sebagai leveraged exposure terhadap yield.

Namun leverage di sini perlu dipahami dengan benar. YT bukan berarti seseorang meminjam dana untuk membeli yield. Leverage muncul karena pengguna membeli hak atas yield dengan harga yang lebih kecil dibanding nilai underlying yang menghasilkan yield tersebut.

Konsekuensinya juga jelas: YT memiliki batas waktu. Ketika maturity tercapai dan tidak ada lagi yield yang dapat diterima, nilai YT menjadi nol. Karena itu, pembeli YT sebenarnya sedang membuat taruhan ekonomi terhadap besarnya yield yang akan dihasilkan sampai periode berakhir.

Jika yield aktual lebih tinggi daripada implied yield yang sudah tercermin dalam harga YT, posisi tersebut dapat menguntungkan. Sebaliknya, jika yield yang diterima tidak cukup untuk menutup biaya pembelian YT, hasilnya dapat merugikan.

Mengapa Pendle membutuhkan pasar khusus?

PT dan YT bukan aset biasa. Nilainya dipengaruhi oleh yield underlying, waktu menuju maturity, dan ekspektasi pasar terhadap yield tersebut. Karena itu, Pendle menggunakan mekanisme pasar yang dirancang khusus untuk yield trading.

Liquidity pada Pendle bukan sekadar menyediakan pasangan dua token untuk perdagangan spot. Pasar tersebut harus memungkinkan harga PT dan YT mencerminkan perubahan yield sekaligus perubahan waktu menuju maturity.

Di sinilah Pendle AMM berperan. PT dan YT dapat diperdagangkan melalui mekanisme yang menggunakan PT/SY liquidity pool, sementara YT trades dirutekan melalui PT AMM. Struktur tersebut memungkinkan satu pasar menangani eksposur terhadap principal maupun yield.

Bagi liquidity provider, economics-nya juga berbeda dari LP pada AMM biasa. Pendle menjelaskan bahwa return LP dapat berasal dari underlying yield, fixed yield PT, swap fees, serta PENDLE incentives.

Dengan demikian, liquidity pada Pendle sebenarnya membantu membentuk pasar untuk yield. Semakin baik liquidity dan price discovery, semakin mudah pengguna melakukan strategi fixed yield maupun mengambil posisi terhadap perubahan yield.

Dari mana Pendle memperoleh revenue?

Pendle memiliki dua sumber fee utama pada mekanisme V2: fee dari yield YT dan swap fee.

Pendle mengenakan 5% fee terhadap yield yang diperoleh YT, termasuk points yang diperlakukan sebagai bentuk yield. Swap fee juga dikenakan terhadap perdagangan PT dan disesuaikan dengan waktu yang tersisa menuju maturity.

Struktur distribusi fee juga memiliki hubungan langsung dengan ekonomi PENDLE. Dari swap fee, 20% diberikan kepada LP sebagai yield. Sisa swap fee bersama seluruh YT fee kemudian dibagi dengan komposisi 80% untuk PENDLE buyback, 10% untuk treasury, dan 10% untuk operations.

Ini membuat hubungan antara penggunaan produk dan token cukup mudah ditelusuri: aktivitas yield trading menghasilkan fee, kemudian sebagian fee tersebut masuk ke mekanisme yang berkaitan dengan PENDLE.

Tetapi revenue protokol tetap tidak boleh disamakan begitu saja dengan value accrual token. Kita masih harus melihat emission dan bagaimana token digunakan untuk mempertahankan pertumbuhan ekosistem.

PENDLE dan incentives

PENDLE juga digunakan untuk memberikan incentives kepada liquidity dan aktivitas pasar. Dokumentasi Pendle menyebut Algorithmic Incentive Model (AIM), yaitu sistem yang mengalokasikan emission berdasarkan performa pool, termasuk liquidity, swap fees, limit-order depth, dan co-incentives.

Dari sisi desain, mekanisme ini mencoba mengarahkan token emission kepada pasar yang memberikan kontribusi lebih besar. Jadi emission tidak sekadar dibagikan secara sama rata kepada seluruh pool.

Namun incentives memiliki trade-off. Reward dapat menarik liquidity dan volume, tetapi belum tentu semua aktivitas tersebut bertahan ketika reward berkurang.

Karena itu, ada perbedaan penting antara liquidity yang dibentuk oleh incentives dan liquidity yang bertahan karena trader memang membutuhkan pasar tersebut. Bagi Pendle, keberhasilan jangka panjang akan lebih kuat jika volume dan liquidity semakin ditopang oleh kebutuhan perdagangan yield, bukan semata-mata oleh emission token.

Tokenomics PENDLE

Menurut dokumentasi Pendle, seluruh token untuk team dan investor telah fully vested sejak September 2024. Peningkatan circulating supply setelah periode tersebut berasal dari incentives dan ecosystem building. Dokumentasi yang sama mencatat bahwa emission mingguan sebesar 216.076 PENDLE pada September 2024 dikurangi 1,1% setiap minggu sampai April 2026, kemudian beralih ke terminal inflation rate sebesar 2% per tahun untuk incentives.

Parameter tersebut penting ketika menilai economics PENDLE. Pendle memiliki mekanisme fee dan buyback, tetapi pada saat yang sama masih menggunakan emission untuk mempertahankan incentives dan membangun ekosistem.

Maka pertanyaan yang lebih berguna bukan hanya apakah Pendle menghasilkan revenue. Yang perlu diamati adalah apakah aktivitas ekonomi yang menghasilkan revenue tersebut cukup kuat dibandingkan biaya incentives yang dibutuhkan untuk mempertahankan pasar.

Points dan airdrop

Pendle juga mempunyai hubungan yang cukup kuat dengan ekonomi points dalam ekosistem Web3.

YT dapat menerima points dari underlying asset. Untuk keperluan perhitungan points, Pendle memperlakukan satu YT sebagai satu unit underlying SY, meskipun harga YT di pasar hanya sebagian dari nilai underlying. Pendle mengenakan fee 5% terhadap points yang diperoleh YT.

Mekanisme ini membuat YT menarik bagi pengguna yang ingin mendapatkan eksposur lebih besar terhadap points dibandingkan modal yang diperlukan untuk memegang underlying secara langsung.

Namun dari sisi sustainability, points juga perlu diperlakukan sebagai sumber demand yang bersifat situasional. Jika sebuah proyek menghentikan program points atau airdrop-nya, alasan pengguna membeli YT dapat ikut berkurang.

Artinya, aktivitas points dapat membantu menciptakan volume dan liquidity, tetapi belum cukup untuk membuktikan adanya demand jangka panjang terhadap pasar Pendle.

Pendle mulai bergerak ke funding-rate market

Perkembangan penting lainnya adalah Boros.

Boros merupakan platform yield trading berbasis margin yang saat ini memungkinkan perdagangan funding rate dari berbagai sumber, termasuk centralized exchanges. Instrumen utamanya disebut Yield Unit atau YU.

Konsep YU memiliki kemiripan dengan YT pada Pendle V2. YU memberikan hak atas future yield dari underlying sampai maturity. Dalam contoh yang diberikan Pendle, YU dapat merepresentasikan funding rate dari posisi BTC atau ETH pada pasar perpetual tertentu.

Perbedaannya terletak pada jenis yield yang diperdagangkan. Pendle V2 terutama memisahkan yield dari yield-bearing assets, sedangkan Boros membawa konsep yield trading ke funding-rate market.

Secara analitis, ini memperluas jenis pasar yang dapat ditangani oleh infrastruktur Pendle. Tetapi perluasan tersebut juga menambah kompleksitas karena Boros menggunakan margin, settlement, liquidation, dan oracle.

Risiko yang ikut bertambah

Pada Pendle V2, risiko tidak berhenti pada smart contract Pendle. Pengguna juga memiliki exposure terhadap underlying protocol yang menghasilkan yield. Jika aset atau protokol underlying mengalami masalah, tokenisasi yield tidak menghilangkan risiko tersebut.

Ada pula risiko maturity dan liquidity. YT memiliki masa berlaku sehingga perubahan yield dan waktu dapat memberikan pengaruh besar terhadap harga. Pasar yang kurang likuid juga dapat membuat pengguna sulit keluar dari posisi dengan harga yang diharapkan.

Boros membawa lapisan risiko tambahan. Platform tersebut mengenakan taker fee, settlement fee, market entrance fee, dan liquidation fee. Settlement fee dikenakan selama posisi terbuka, sedangkan liquidation fee berlaku ketika posisi dilikuidasi.

Oracle juga menjadi komponen penting karena Boros membutuhkan data yield dari underlying market. Dokumentasi Pendle menjelaskan bahwa Boros menggunakan oracle untuk memperoleh yield rate seperti funding rate dari Binance atau Hyperliquid.

Dengan demikian, risiko Boros bukan hanya salah memprediksi funding rate. Trader juga menghadapi risiko margin, liquidation, oracle, settlement, dan kondisi pasar underlying.

Apa yang membedakan Pendle?

Pendle memiliki positioning yang cukup spesifik dibandingkan protokol DeFi yang hanya menawarkan lending atau staking. Produk utamanya bukan sekadar memberikan yield, tetapi membuat yield itu sendiri dapat diperdagangkan.

PT memungkinkan pengguna mengambil eksposur terhadap fixed yield. YT memungkinkan pengguna mengambil posisi terhadap future yield. AMM menyediakan market untuk keduanya, sementara incentives membantu membangun liquidity.

Boros kemudian membawa pendekatan tersebut ke funding-rate market.

Namun mekanisme ini tidak otomatis menciptakan keunggulan yang sulit ditiru. Kompetisi tetap datang dari berbagai protokol fixed-yield, structured products, derivatives, dan pasar funding-rate lainnya.

Karena itu, keunggulan Pendle dalam jangka panjang kemungkinan lebih bergantung pada liquidity, market depth, volume, integrasi underlying, dan kemampuan menciptakan price discovery yang lebih baik daripada sekadar fitur teknis smart contract.

Kesimpulan

Pendle menarik karena mencoba membuat sesuatu yang biasanya melekat pada sebuah aset menjadi instrumen yang dapat diperdagangkan secara terpisah.

Melalui PT, pengguna dapat mengambil eksposur terhadap principal dan fixed yield. Melalui YT, pengguna mendapatkan hak atas future yield dan points sampai maturity. AMM kemudian menyediakan infrastruktur agar kedua jenis eksposur tersebut dapat diperdagangkan.

Model tersebut juga menciptakan hubungan ekonomi yang cukup jelas antara penggunaan protokol dan PENDLE. Aktivitas yield trading menghasilkan fee, sementara PENDLE digunakan untuk incentives dan sebagian fee diarahkan ke mekanisme buyback. Tetapi emission tetap menjadi bagian dari sistem, sehingga pertumbuhan revenue tidak boleh dilihat secara terpisah dari biaya mempertahankan liquidity dan ekosistem.

Boros menunjukkan bahwa Pendle ingin membawa konsep ini lebih jauh dengan memperdagangkan funding rate melalui Yield Units. Potensinya memang lebih luas, tetapi bersamaan dengan itu muncul risiko margin, liquidation, oracle, dan settlement yang tidak boleh diabaikan.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar tentang Pendle bukan apakah mekanisme yield tokenization-nya bekerja. Mekanismenya sudah dapat dijelaskan dan digunakan. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah pasar tersebut memiliki demand organik yang cukup untuk mempertahankan liquidity dan volume ketika incentives bukan lagi alasan utama pengguna datang.

Jika Pendle mampu membangun pasar yield yang digunakan karena kebutuhan ekonomi nyata, modelnya menjadi jauh lebih menarik. Jika aktivitasnya terlalu bergantung pada incentives, points farming, atau kondisi yield tertentu, sustainability-nya menjadi pertanyaan yang lebih besar.

Karena itu, ketika melakukan DYOR terhadap Pendle, perhatian sebaiknya tidak hanya diarahkan pada TVL atau besarnya yield yang tersedia. Lebih penting untuk melihat dari mana volume berasal, berapa banyak liquidity yang bertahan, bagaimana revenue berkembang, seberapa besar ketergantungan terhadap incentives, serta apakah pertumbuhan tersebut benar-benar memperkuat hubungan antara produk Pendle dan ekonomi PENDLE.

Referensi

  1. Pendle Documentation — Yield Tokenization Smart Contracts.
  2. Pendle Documentation — Principal Token (PT).
  3. Pendle Documentation — Yield Token (YT).
  4. Pendle Documentation — Fees.
  5. Pendle Documentation — Tokenomics.
  6. Pendle Documentation — Incentives / Algorithmic Incentive Model.
  7. Pendle Documentation — Points Trading & Points Tracking.
  8. Pendle Documentation — Boros Overview.
  9. Pendle Documentation — Boros Yield Units.
  10. Pendle Documentation — Boros Fees.

Disclaimer

Artikel ini dibuat untuk tujuan edukasi dan dokumentasi riset. Informasi mengenai mekanisme, tokenomics, produk, fee, dan ekosistem dapat berubah berdasarkan pembaruan protokol atau keputusan governance.

Artikel ini bukan nasihat investasi, bukan ajakan membeli atau menjual PENDLE, dan bukan rekomendasi terhadap Pendle maupun produk yang terhubung dengannya. Pembaca tetap perlu memeriksa dokumentasi resmi dan melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan.

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url