Ondo Finance: Riset RWA, Tokenized Stocks, Produk, Tokenomics, dan Risiko ONDO

Ilustrasi lukisan Ondo Finance menghubungkan aset keuangan tradisional dengan blockchain melalui tokenisasi RWA dan DeFi. yesetoy


Ondo Finance merupakan salah satu proyek yang menarik dalam perkembangan tokenisasi aset dunia nyata atau Real-World Assets (RWA). Namun, melihat Ondo hanya sebagai proyek yang membuat Treasury AS atau saham menjadi token di blockchain akan membuat gambaran proyek ini terlalu sederhana.

Setelah mempelajari dokumentasi, produk, pengumuman resmi, tokenomics, dan perkembangan ekosistemnya, saya melihat Ondo sedang membangun sesuatu yang lebih luas: sebuah infrastruktur yang mencoba menghubungkan pasar keuangan tradisional dengan blockchain.

Pertanyaan pentingnya bukan hanya apakah Ondo berhasil melakukan tokenisasi aset. Produk tersebut sudah berjalan. Pertanyaan yang lebih menarik adalah bagaimana mekanismenya bekerja, apakah penggunaan produknya benar-benar berkembang secara berkelanjutan, bagaimana Ondo menghadapi kompetitor, dan yang paling penting bagi pemegang token: apakah pertumbuhan bisnis Ondo benar-benar menciptakan nilai bagi ONDO?

Bagaimana Ondo bekerja?

Cara paling mudah memahami Ondo adalah dengan melihatnya sebagai penghubung antara aset keuangan tradisional dan infrastruktur onchain.

Pada produk seperti Ondo Stocks, underlying-nya tetap berupa saham atau ETF tradisional. Aset tersebut tidak sekadar “diubah menjadi crypto”. Ondo menggunakan struktur custody, broker-dealer, transfer agent, dan entitas legal untuk menjaga hubungan antara aset tradisional dan token yang diterbitkan di blockchain.

Dalam peluncuran tokenized securities di Amerika Serikat pada Juli 2026, misalnya, Ondo menjelaskan bahwa saham underlying tetap berada dalam regulated U.S. custody chain. Token kemudian diterbitkan secara 1:1 terhadap underlying securities dan berjalan di Ethereum. Broadridge juga digunakan untuk mendukung fungsi seperti proxy voting dan komunikasi pemegang sekuritas.

Artinya, model Ondo bukan sepenuhnya trustless. Kepercayaan tidak hanya diletakkan pada smart contract, tetapi juga pada custodian, broker-dealer, transfer agent, struktur legal, oracle, dan proses operasional.

Menurut saya, ini bukan kelemahan yang otomatis membuat model Ondo buruk. Justru itulah karakteristik RWA. Ketika aset yang dibawa ke blockchain adalah saham, Treasury, atau ETF, dunia hukum dan keuangan tradisional tetap menjadi bagian dari sistem.

Perbedaan pentingnya adalah blockchain memberikan lapisan baru berupa transferability, programmability, composability, dan akses ke aplikasi keuangan onchain.

Dari Treasury hingga saham

Ondo memiliki beberapa produk yang melayani kebutuhan berbeda.

USDY merupakan tokenized note yang dirancang memberikan exposure terhadap aset berbasis dolar dan menghasilkan yield. Struktur underlying-nya tidak boleh disederhanakan hanya sebagai “token Treasury”, karena dokumentasi Ondo menjelaskan beberapa bentuk underlying, termasuk short-term U.S. Treasuries, ETF Treasury jangka pendek, dan bank demand deposits, bergantung pada struktur penerbitannya. USDY juga memiliki bentuk accumulating dan rebasing.

OUSG berada pada sisi yang lebih institusional. Produk ini memberikan exposure terhadap short-term U.S. Treasuries dan money-market funds. Portofolionya mencakup produk tokenized funds dari sejumlah asset manager besar.

Kemudian ada Ondo Stocks, yang membawa exposure terhadap saham dan ETF AS ke blockchain. Halaman resmi Ondo saat ini menampilkan lebih dari 440 tokenized stocks dan ETFs yang tersedia di Ethereum, BNB Chain, dan Solana. Ondo juga menampilkan TVL sekitar $1,02 miliar dan sekitar 181.700 unique holders pada saat penelitian ini dilakukan. Angka tersebut merupakan data yang ditampilkan oleh Ondo, sehingga sebaiknya dipahami sebagai angka yang dilaporkan oleh proyek, bukan hasil audit independen yang saya lakukan.

Ada satu hal yang perlu diperhatikan: Ondo Stocks tidak tersedia untuk pengguna berbasis Amerika Serikat pada platform resminya saat ini. Akses juga bergantung pada yurisdiksi dan persyaratan tertentu.

Mengapa tokenized stocks menjadi penting?

Tokenisasi saham akan terdengar kurang menarik jika hanya dipahami sebagai cara baru untuk melihat harga saham di blockchain.

Nilai sebenarnya mulai terlihat ketika aset tersebut dapat digunakan sebagai financial primitive.

Pada Februari 2026, Ondo mengumumkan bahwa SPYon dan QQQon mulai digunakan sebagai collateral dalam DeFi lending melalui Morpho dengan risk management dari Gauntlet. Chainlink juga menjadi data oracle untuk beberapa tokenized assets seperti SPYon, QQQon, dan TSLAon.

Dengan demikian, tokenized stock tidak lagi hanya menjadi aset yang disimpan.

Aset tersebut dapat digunakan sebagai collateral untuk memperoleh pinjaman dan membangun strategi keuangan lainnya.

Secara sederhana, perkembangannya menjadi seperti ini:

Aset tradisional → tokenisasi → liquidity → oracle → collateral → lending/trading.

Di sinilah konsep composability blockchain mulai memiliki arti bagi RWA.

Ondo juga membawa tokenized stocks ke Hyperliquid melalui HyperEVM. Pada tahap awal, 35 aset Ondo dapat dijembatani ke HyperEVM, sehingga tokenized stocks dapat dipasangkan dengan perpetual positions untuk strategi seperti basis trading, funding arbitrage, dan delta-neutral strategies.

Namun, keberadaan fitur tersebut tidak otomatis berarti seluruh strategi akan menguntungkan atau aman. Itu adalah kemampuan infrastruktur, bukan jaminan hasil investasi.

Adoption mulai terlihat, tetapi angka harus dibaca hati-hati

Ondo memiliki evidence adoption yang cukup kuat dibanding proyek yang baru berada pada tahap roadmap.

Pada Mei 2026, Ondo mengumumkan Ondo Stocks telah melewati $1 miliar TVL. Dalam pengumuman yang sama, Ondo menyebut lebih dari 70% market share dan sekitar $18 miliar cumulative trading volume. Angka market share dan volume tersebut berasal dari klaim Ondo yang merujuk pada data pasar, sehingga sebaiknya tetap ditulis sebagai data yang dilaporkan Ondo.

Beberapa bulan setelahnya, halaman resmi Ondo menampilkan sekitar $1,02 miliar TVL dan lebih dari 440 aset. Ini menunjukkan bahwa produk terus berkembang sejak milestone $1 miliar tersebut.

Distribusinya juga semakin luas. Ondo Stocks telah hadir di beberapa blockchain dan terintegrasi dengan wallet, exchange, serta protokol DeFi. Integrasi dengan Ledger, misalnya, memungkinkan pengguna yang memenuhi syarat melakukan swap tokenized stocks melalui Ledger Wallet dengan infrastruktur 1inch.

Namun, saya tidak akan menyamakan angka TVL dengan keberhasilan bisnis secara otomatis.

TVL menunjukkan ukuran aset yang berada dalam sistem. Ia belum menjawab berapa revenue yang dihasilkan, berapa biaya operasionalnya, seberapa besar organic demand, bagaimana retensi pengguna, dan apakah aktivitas tersebut tetap bertahan ketika insentif berubah.

Dengan kata lain, adoption sudah memiliki evidence. Sustainability ekonominya masih harus terus diuji.

Kompetisi Ondo bukan hanya sesama proyek crypto

Persaingan Ondo juga menarik karena lawannya bukan hanya proyek RWA lain.

Di tokenized Treasury, Ondo berhadapan dengan produk seperti BlackRock BUIDL, Franklin Templeton BENJI, WisdomTree, dan berbagai issuer lainnya.

Di tokenized securities, terdapat berbagai perusahaan yang mencoba membawa saham dan aset tradisional ke blockchain. Sementara di sisi infrastructure, Ondo juga bersinggungan dengan pemain seperti Chainlink, custodians, broker-dealers, exchanges, dan perusahaan financial infrastructure tradisional.

Karena itu, keunggulan Ondo tidak seharusnya dinilai hanya dari jumlah tokenized assets.

Keunggulan yang lebih relevan adalah kombinasi antara regulatory infrastructure, custody, liquidity, distribution, jumlah aset, integrasi DeFi, hubungan institusional, dan developer infrastructure.

Semakin banyak komponen tersebut terhubung dalam satu ekosistem, semakin sulit bagi kompetitor untuk mengejar hanya dengan membuat tokenized stock baru.

Tetapi ada risiko sebaliknya. Jika tokenisasi akhirnya menjadi fitur standar yang ditawarkan oleh bank, broker, exchange, dan asset manager besar, tokenisasi sendiri dapat menjadi komoditas. Ondo harus membuktikan bahwa infrastructure dan distribution yang dibangunnya memiliki moat yang bertahan lama.

Tokenomics ONDO adalah bagian yang berbeda dari bisnis Ondo

Salah satu hal yang menurut saya paling penting dalam riset ini adalah memisahkan pertumbuhan Ondo Finance dari value accrual token ONDO.

ONDO memiliki maximum supply 10 miliar token. Proposal tokenomics Foundation menyebut initial circulating supply sebesar 1.426.647.567 ONDO atau sekitar 14,3%.

Alokasinya terdiri dari sekitar 52,1% untuk Ecosystem Growth, 33% untuk Protocol Development, 12,9% untuk Private Sales, dan sekitar 2% untuk Community Access Sale. Lebih dari 85% supply pada awalnya dikunci dengan jadwal unlock bertahap.

Angka 52,1% untuk Ecosystem Growth juga tidak berarti 52,1% token tersebut akan diberikan melalui airdrop. Foundation menjelaskan bahwa alokasi tersebut dapat digunakan untuk berbagai growth incentives dan contributor ecosystem, termasuk airdrops.

Ada juga disclosure wallet yang perlu diperhatikan. Ondo Foundation Group mengungkapkan bahwa satu alamat yang berada di bawah kontrolnya menyimpan 4.422.519.707 locked ONDO. Data tersebut diperbarui pada 26 Agustus 2026.

Jika angka tersebut dibandingkan dengan maximum supply 10 miliar, jumlahnya setara sekitar 44,2% dari maximum supply. Perhitungan tersebut adalah kalkulasi dari data Foundation, bukan angka yang dinyatakan langsung oleh Foundation.

Namun, locked supply tidak sama dengan token yang akan segera masuk pasar. Jadwal unlock, status aktual masing-masing wallet, serta penggunaan token harus dilihat secara terpisah.

Ini penting karena tokenomics ONDO memiliki potensi supply pressure, tetapi besarnya tekanan tersebut tidak dapat dinilai hanya dengan melihat maximum supply.

Apakah pertumbuhan Ondo otomatis menguntungkan pemegang ONDO?

Menurut saya, ini adalah pertanyaan paling penting dalam seluruh riset.

Ondo dapat memiliki produk yang semakin besar, TVL yang meningkat, lebih banyak tokenized securities, dan lebih banyak pengguna. Semua itu merupakan perkembangan positif bagi bisnis.

Tetapi tidak otomatis berarti ONDO memiliki economic claim terhadap seluruh aktivitas tersebut.

ONDO adalah token governance/ecosystem, bukan saham Ondo Finance. Karena itu, kita tidak boleh menggunakan logika sederhana:

Ondo TVL naik → bisnis naik → ONDO pasti naik.

Hubungan tersebut harus dibuktikan.

Untuk menilai value accrual ONDO secara lebih serius, kita perlu melihat hubungan antara governance, treasury, token utility, emissions, supply unlock, dan economic activity yang benar-benar memberikan manfaat kepada token holders.

Sampai tahap riset ini, saya belum menemukan evidence yang cukup untuk menyatakan bahwa pertumbuhan revenue atau TVL Ondo secara langsung dan proporsional mengalir kepada pemegang ONDO.

Ini bukan berarti ONDO tidak memiliki value. Ini berarti mekanisme value accrual-nya perlu dianalisis terpisah dari keberhasilan produk.

Risiko yang perlu diperhatikan

Risiko pertama adalah regulasi.

Ondo beroperasi di wilayah yang sangat dekat dengan securities law, custody, broker-dealer, transfer agency, investor eligibility, AML/KYC, dan cross-border regulation. Regulasi sekaligus dapat menjadi moat karena menciptakan barrier to entry, tetapi juga dapat menjadi risiko terbesar jika aturan berubah.

Risiko kedua adalah counterparty dan custody.

Pemegang tokenized RWA tidak hanya bergantung pada smart contract. Ada custodian, broker-dealer, issuer, transfer agent, legal structure, oracle, dan operational infrastructure. Jika salah satu komponen penting mengalami masalah, risiko tersebut dapat memengaruhi keseluruhan sistem.

Risiko ketiga adalah liquidity mismatch.

Blockchain berjalan 24/7, sementara pasar saham tradisional memiliki jam perdagangan dan mekanisme settlement tertentu. Ondo dapat menyediakan minting dan redemption pada jadwal tertentu, tetapi itu tidak berarti liquidity tidak memiliki batas.

Risiko keempat adalah smart contract, oracle, bridge, dan infrastructure risk.

Semakin banyak aset dan blockchain yang terhubung, semakin luas attack surface-nya. Integrasi dengan DeFi memang meningkatkan utility, tetapi juga memperkenalkan risiko baru.

Risiko kelima adalah kompetisi.

Jika bank, asset manager, exchange, dan financial infrastructure provider besar membangun solusi tokenisasi sendiri, Ondo harus terus membuktikan bahwa distribution, liquidity, technology, regulatory positioning, dan ecosystem-nya memberikan keunggulan yang sulit ditiru.

Terakhir adalah risiko tokenomics.

Maximum supply 10 miliar dan besarnya allocation yang masih berada dalam mekanisme vesting/unlock membuat supply dynamics ONDO menjadi faktor yang tidak boleh diabaikan oleh investor.

Kesimpulan

Setelah membongkar mekanisme Ondo, saya melihat proyek ini lebih tepat dipahami sebagai infrastruktur pasar keuangan onchain, bukan sekadar proyek tokenized Treasury.

USDY dan OUSG memberikan fondasi dari sisi yield-bearing assets. Ondo Stocks memperluasnya ke saham dan ETF. Integrasi dengan oracle dan DeFi membuat tokenized assets mulai dapat digunakan sebagai collateral dan financial primitive. Sementara ekspansi ke infrastructure seperti Ondo Network menunjukkan ambisi untuk membangun lebih dari sekadar produk tokenisasi.

Evidence adoption juga sudah cukup nyata. Ondo melaporkan lebih dari $1 miliar TVL pada Ondo Stocks, dan halaman resminya saat ini menampilkan lebih dari 440 tokenized stocks dan ETFs. Produk tersebut juga telah masuk ke berbagai blockchain, wallet, exchange, dan protokol DeFi.

Namun, ada perbedaan antara proyek yang berkembang dan token yang pasti bernilai lebih tinggi.

Bagi saya, bagian paling penting dari riset Ondo justru berada di titik tersebut.

Ondo tampaknya sedang membangun posisi yang cukup kuat di antara traditional finance dan blockchain. Tetapi belum cukup hanya mengatakan bahwa RWA akan tumbuh dan kemudian menyimpulkan ONDO akan memperoleh manfaat yang sama besar.

Investor perlu memisahkan tiga hal: keberhasilan produk Ondo, keberhasilan bisnis Ondo, dan value accrual kepada token ONDO.

Yang pertama sudah memiliki evidence yang kuat. Yang kedua menunjukkan banyak tanda positif tetapi masih perlu diuji dengan data ekonomi yang lebih lengkap. Yang ketiga masih merupakan pertanyaan terbuka.

Karena itu, menurut saya tesis Ondo yang paling menarik bukan sekadar “RWA akan menjadi besar”.

Tesis yang lebih tepat adalah: jika tokenisasi berkembang menjadi bagian penting dari infrastruktur pasar modal global, Ondo berusaha menempatkan dirinya pada beberapa lapisan sekaligus—issuer, distribution, liquidity, DeFi infrastructure, dan financial-market infrastructure.

Apakah posisi tersebut akhirnya menghasilkan moat dan economic value yang berkelanjutan bagi ONDO adalah sesuatu yang masih harus dibuktikan.

Itulah bagian yang menurut saya paling penting untuk DYOR.

Referensi

  1. Ondo Finance — Official Website
  2. Ondo Stocks — Official Product Page
  3. Ondo Stocks Surpasses $1 Billion TVL
  4. Ondo Tokenized Stocks Enter DeFi Lending Markets
  5. DeFi Adoption of Ondo Tokenized Stocks With Chainlink
  6. Ondo Tokenized Stocks on HyperEVM
  7. Ondo Launches Custodial Tokenized Securities in the U.S.
  8. Unlocking ONDO — Ondo Foundation
  9. Ondo Foundation Group Wallet Address Disclosure
  10. Ondo Foundation Rewards Program Terms

Disclaimer

Artikel ini dibuat untuk tujuan edukasi dan dokumentasi riset. Informasi bersumber terutama dari dokumentasi dan publikasi resmi Ondo Finance serta Ondo Foundation, sehingga beberapa angka dan klaim adoption merupakan data yang dilaporkan oleh proyek dan tidak selalu merupakan hasil verifikasi independen.

Artikel ini bukan nasihat investasi, rekomendasi membeli atau menjual ONDO, maupun jaminan terhadap performa proyek atau token. Kondisi produk, regulasi, tokenomics, supply, dan ekosistem dapat berubah. Lakukan penelitian tambahan terhadap dokumentasi terbaru, data onchain, kondisi regulasi, dan risiko sebelum mengambil keputusan.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url