Kaia: Memahami Blockchain yang Membangun Infrastruktur Stablecoin dan Keuangan Onchain di Asia

Ilustrasi Lukisan Kaia sebagai blockchain Layer 1 untuk stablecoin dan keuangan onchain di Asia. yesetoy


Kaia tidak lagi sekadar memperkenalkan dirinya sebagai blockchain Layer 1 dengan transaksi cepat dan biaya rendah. Arah proyek ini semakin jelas: membangun infrastruktur untuk stablecoin settlement dan onchain finance di Asia.

Perubahan tersebut penting karena cara menilai Kaia juga ikut berubah. Kecepatan jaringan memang menjadi bagian dari infrastrukturnya, tetapi pertanyaan yang lebih menarik adalah apa yang ingin dibangun di atas infrastruktur tersebut, bagaimana aktivitas ekonominya diciptakan, dan apakah pertumbuhan ekosistem pada akhirnya memberikan nilai yang cukup bagi jaringan maupun token KAIA.

Kaia sendiri merupakan hasil penggabungan dua ekosistem sebelumnya, Klaytn dan Finschia. Mainnet Kaia kemudian diluncurkan pada Agustus 2024. Saat ini proyek tersebut memosisikan dirinya sebagai EVM-compatible Layer 1 yang berfokus pada stablecoin, pembayaran, FX, DeFi, dan tokenized assets.

Apa yang sebenarnya dibangun Kaia?

Secara teknis, Kaia menggunakan versi yang dioptimalkan dari Istanbul BFT. Proses konsensus menggunakan committee yang dipilih secara acak melalui Verifiable Random Function (VRF), kemudian proposer membuat block dan committee memverifikasinya. Dokumentasi Kaia menyebut jaringan dapat mencapai sekitar 4.000 transaksi per detik, dengan block generation sekitar satu detik dan immediate finality.

Kaia juga menggunakan Kaia Virtual Machine yang kompatibel dengan ekosistem Ethereum. Hal ini memungkinkan developer menggunakan Solidity serta berbagai tooling yang sudah dikenal dalam ekosistem EVM. Bagi sebuah Layer 1, kompatibilitas semacam ini penting karena developer tidak harus mempelajari lingkungan pemrograman yang sepenuhnya baru untuk mulai membangun aplikasi.

Namun kemampuan teknis tersebut bukan alasan yang cukup untuk menyimpulkan bahwa Kaia akan berhasil. Blockchain dapat memiliki throughput tinggi, tetapi jika tidak ada aktivitas ekonomi yang berarti di atasnya, blockspace tersebut tidak otomatis memiliki nilai.

Karena itu, fokus Kaia saat ini menjadi lebih spesifik.

Dari blockchain menjadi infrastruktur stablecoin

Kaia menggambarkan dirinya sebagai fondasi untuk stablecoin settlement dan onchain finance di Asia. Model yang ingin dibangun dimulai dari stablecoin sebagai alat pembayaran dan settlement, kemudian menghubungkannya dengan FX, DeFi, yield, serta aset dunia nyata yang ditokenisasi.

Logikanya cukup mudah dipahami. Stablecoin dapat membawa nilai ke blockchain, tetapi keberadaan stablecoin saja belum menciptakan ekosistem keuangan. Agar menjadi economic activity, aset tersebut harus bergerak, diperdagangkan, digunakan sebagai collateral, menghasilkan yield, atau digunakan dalam pembayaran.

Kaia mencoba menyediakan berbagai lapisan untuk aktivitas tersebut. Di ekosistemnya terdapat infrastruktur stablecoin, aplikasi DeFi, lending, yield, FX, hingga RWA. Pada 2026, Kaia juga melaporkan integrasi dengan sejumlah institusi keuangan dan protokol seperti Morpho, RedStone, serta pilot stablecoin dengan KB Kookmin dan iM Bank.

Tetapi ada perbedaan penting antara integrasi dan adoption. Pengumuman partnership atau pilot menunjukkan bahwa sebuah hubungan telah dibangun atau diuji, tetapi belum otomatis membuktikan penggunaan berkelanjutan dalam skala besar.

Karena itu, perkembangan Kaia lebih menarik untuk diamati melalui aktivitas aktual yang muncul setelah berbagai integrasi tersebut berjalan.

Mengapa stablecoin menjadi bagian penting dari strategi Kaia?

Kaia ingin menghubungkan berbagai stablecoin regional dengan satu jaringan. Dokumentasi resminya mencantumkan stablecoin seperti USDT, IDRX, IDRP, dan JPYC, sementara proyek juga mengembangkan use case untuk pembayaran lintas negara, FX, DeFi, dan commerce.

Jika strategi ini berhasil, Kaia tidak hanya menjadi tempat untuk menyimpan atau mentransfer stablecoin. Jaringan tersebut dapat menjadi lapisan tempat stablecoin digunakan sebagai modal untuk berbagai aktivitas keuangan.

Di sinilah tesis Kaia mulai terlihat. Teknologi L1 berfungsi sebagai fondasi, stablecoin membawa likuiditas, aplikasi keuangan menyediakan tempat bagi modal untuk digunakan, dan integrasi dengan institusi maupun aplikasi konsumen diharapkan membawa pengguna masuk ke dalam sistem tersebut.

Namun model seperti ini juga menciptakan ketergantungan. Stablecoin memiliki issuer, aturan, kebutuhan likuiditas, dan risiko regulasi masing-masing. Semakin besar peran stablecoin dalam ekonomi Kaia, semakin besar pula pentingnya faktor-faktor tersebut bagi jaringan.

KAIA digunakan untuk apa?

KAIA merupakan aset native jaringan dan digunakan untuk membayar transaction fees. Token ini juga berkaitan dengan staking, keamanan jaringan, serta governance.

Kaia saat ini menerbitkan KAIA melalui block rewards. Dokumentasi terbaru menyebut 9,6 KAIA diterbitkan pada setiap block, yang secara kasar menghasilkan sekitar 300 juta KAIA per tahun atau sekitar 5,2% annual inflation berdasarkan jumlah token yang beredar. Angka tersebut bukan parameter permanen karena dapat diubah melalui proses governance.

Block reward kemudian dibagi menjadi tiga tujuan utama. Sebesar 50% dialokasikan untuk Validators & Community, 25% untuk Kaia Ecosystem Fund (KEF), dan 25% untuk Kaia Infrastructure Fund (KIF). Dari bagian 50% pertama, 20% digunakan untuk Contribution Rewards dan 80% untuk Staking Rewards.

Struktur ini menunjukkan bahwa emission Kaia tidak hanya digunakan untuk membayar pihak yang menjaga jaringan. Sebagian juga digunakan untuk membiayai pengembangan dan pertumbuhan ekosistem.

Di satu sisi, pendekatan tersebut memberi proyek sumber daya untuk terus membangun. Di sisi lain, emission tetap menambah supply KAIA. Karena itu, pertanyaan ekonominya bukan hanya apakah Kaia mempunyai mekanisme burn, tetapi apakah aktivitas ekonomi yang dihasilkan jaringan cukup besar untuk membuat emission tersebut produktif.

Contribution Reward dan pertanyaan tentang sustainability

Contribution Reward merupakan bagian penting dari perubahan tokenomics Kaia. Konsepnya adalah memberikan insentif kepada kontribusi yang dianggap membantu pertumbuhan jaringan, bukan sekadar membayar validator karena menjalankan node.

Dokumentasi Kaia menyatakan bahwa 10% dari total inflation dialokasikan ke Contribution Rewards. Reward tersebut dikaitkan dengan kontribusi yang dapat diukur secara onchain, sementara bagian yang tidak berhasil diperoleh dapat dibakar. Tujuannya adalah membuat sebagian penerbitan token bergantung pada kontribusi yang benar-benar terjadi.

Secara teori, mekanisme ini menarik karena menciptakan hubungan antara emission dan pertumbuhan ekosistem. Tetapi desain insentif tidak otomatis membuktikan bahwa pertumbuhan tersebut organik.

Aktivitas yang muncul karena reward bisa saja menghasilkan economic activity yang bertahan setelah insentif berakhir. Namun bisa juga aktivitas tersebut sebagian besar berasal dari pencarian insentif. Perbedaannya hanya dapat terlihat melalui data penggunaan dan perkembangan ekosistem dari waktu ke waktu.

Karena itu, sustainability Kaia pada akhirnya sangat bergantung pada kualitas demand, bukan sekadar jumlah token yang diterbitkan atau dibakar.

Kaia sedang mengubah model validasinya

Aspek lain yang penting adalah perubahan struktur validator.

Kaia telah mengesahkan GP-20 sebagai bagian dari transisi menuju permissionless network. Dalam desain tersebut, pihak yang memenuhi persyaratan dapat mendaftarkan diri sebagai validator. Namun permissionless tidak berarti semua validator otomatis ikut dalam consensus.

GP-20 menetapkan minimum staking sebesar 5 juta KAIA, sementara Validator Pool dapat berisi hingga 100 validator. Dari pool tersebut, maksimal 50 validator aktif berpartisipasi dalam consensus, dan jika jumlahnya lebih dari 50, validator dengan total staking tertinggi akan dipilih. Sistem VRank juga digunakan untuk menilai performa dan kelayakan validator.

Pada fase transisi saat ini, proses onboarding validator masih memiliki keterlibatan administratif. Dokumentasi Kaia menyebut bahwa pada Permissionless Phase 1, permintaan onboarding masih memerlukan approval dari Kaia Team, sedangkan Phase 2 dirancang agar registrasi dapat dilakukan langsung secara onchain tanpa approval administratif tersebut.

Perubahan ini menarik karena Kaia mencoba memperluas partisipasi tanpa mengorbankan performa consensus.

Namun dari perspektif decentralization, masih ada hal yang perlu diamati. Sistem yang terbuka untuk peserta baru belum tentu menghasilkan distribusi kekuasaan yang merata jika consensus tetap sangat dipengaruhi oleh validator dengan staking besar.

Ekosistem dan adoption

Kaia telah membangun sejumlah komponen yang mendukung tesis financial infrastructure-nya. Pada Q2 2026, proyek melaporkan integrasi dengan Morpho untuk lending, RedStone untuk oracle, JPYC sebagai stablecoin regional, serta berbagai inisiatif yang berhubungan dengan pembayaran, RWA, dan institusi keuangan.

Kaia juga menyebut lebih dari 60.000 onchain wallet addresses dan 13.000 direct accounts dalam konteks ekosistem JPYC pada Juni 2026. Angka tersebut menunjukkan aktivitas yang sedang berkembang, tetapi wallet addresses tidak dapat langsung dianggap sebagai jumlah pengguna aktif unik.

Hal yang sama berlaku untuk partnership. Integrasi dengan bank atau perusahaan besar merupakan evidence bahwa ada aktivitas pembangunan dan eksperimen, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh aktivitas tersebut telah berubah menjadi adoption berkelanjutan.

Karena itu, perkembangan Kaia sebaiknya dinilai menggunakan urutan yang lebih ketat: announcement, integration, pilot, production usage, kemudian recurring economic activity.

Di mana letak keunggulan Kaia?

Keunggulan Kaia tidak hanya berada pada throughput atau EVM compatibility. Jika hanya mengandalkan dua hal tersebut, persaingannya sangat luas karena banyak blockchain lain menawarkan karakteristik serupa.

Tesis yang lebih menarik adalah kombinasi antara infrastruktur L1, stablecoin regional, integrasi dengan aplikasi konsumen, liquidity, dan financial applications.

Hubungan dengan ekosistem LINE dan Kakao juga memberikan potensi distribution advantage. Kaia dan LINE NEXT, misalnya, sedang mengembangkan Unifi sebagai sarana yang menghubungkan stablecoin payments dan onchain finance dengan aplikasi messaging.

Tetapi potensi distribusi tidak sama dengan adoption aktual. Jumlah pengguna aplikasi yang dapat dijangkau tidak boleh langsung diperlakukan sebagai jumlah pengguna blockchain. Yang perlu dibuktikan adalah berapa banyak dari potensi tersebut yang benar-benar menggunakan stablecoin, melakukan transaksi, menggunakan aplikasi Kaia, atau menghasilkan aktivitas ekonomi yang berulang.

Persaingan Kaia tidak hanya datang dari blockchain lain

Jika Kaia ingin menjadi infrastructure untuk stablecoin dan onchain finance di Asia, maka kompetisinya bukan hanya Ethereum, Solana, BNB Chain, atau Layer 1 lainnya.

Kaia juga berhadapan dengan Layer 2, jaringan pembayaran, blockchain yang fokus pada stablecoin dan RWA, serta sistem keuangan tradisional yang terus beradaptasi dengan aset digital.

Stablecoin juga relatif mudah dipindahkan antarjaringan. Karena itu, memiliki stablecoin saja belum menciptakan moat.

Moat yang lebih sulit ditiru justru berada pada kombinasi liquidity, distribution, applications, institutional relationships, developer ecosystem, dan penggunaan berulang. Jika seluruh komponen tersebut saling memperkuat, Kaia dapat membangun network effect yang lebih sulit dipindahkan ke jaringan lain.

Jika tidak, pengguna dan liquidity dapat berpindah ke jaringan yang memberikan biaya, yield, liquidity, atau akses yang lebih baik.

Hubungan antara pertumbuhan jaringan dan nilai KAIA

Ini mungkin pertanyaan paling penting ketika melihat Kaia dari sisi token.

Pertumbuhan ekosistem tidak otomatis berarti KAIA memperoleh value accrual yang sama besar. KAIA memang diperlukan sebagai gas dan memiliki fungsi staking serta governance, sehingga terdapat hubungan langsung antara token dan jaringan.

Tetapi jaringan yang semakin banyak digunakan juga dapat menghasilkan emission yang terus berjalan. Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat adalah apakah pertumbuhan economic activity mampu menciptakan permintaan dan utility yang cukup untuk mengimbangi supply yang diterbitkan.

Misalnya, semakin banyak stablecoin yang bergerak di Kaia dapat meningkatkan penggunaan jaringan. Tetapi jika sebagian besar pengguna tidak perlu memegang KAIA dalam jumlah besar, pertumbuhan stablecoin activity belum tentu menghasilkan peningkatan demand terhadap token dalam proporsi yang sama.

Hal inilah yang membuat nilai jaringan dan value accrual token perlu dipisahkan.

Sebuah ekosistem dapat berkembang sementara hubungan antara pertumbuhan tersebut dengan harga atau nilai ekonomis token masih perlu dibuktikan.

Risiko yang perlu diperhatikan

Risiko pertama adalah adoption. Kaia memiliki banyak integrasi dan rencana penggunaan, tetapi sebagian di antaranya masih berada pada tahap pilot, deployment, atau ekspansi ekosistem. Yang perlu dilihat adalah apakah aktivitas tersebut bertahan dan berkembang setelah insentif atau fase awal selesai.

Risiko kedua berasal dari tokenomics. Dengan emission sekitar 5,2% berdasarkan parameter saat ini, Kaia membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang cukup agar penerbitan token tidak menjadi tekanan jangka panjang terhadap ekonomi token. Parameter tersebut sendiri dapat berubah melalui governance.

Risiko ketiga berkaitan dengan decentralization. Transisi menuju permissionless validator participation merupakan langkah penting, tetapi desain validator berdasarkan staking dan batas partisipasi consensus tetap perlu diamati untuk mengetahui bagaimana distribusi kekuasaan jaringan berkembang.

Ada pula risiko yang berasal dari fokus stablecoin. Ketergantungan terhadap issuer, liquidity, bridge, regulatory framework, dan infrastruktur keuangan eksternal berarti keberhasilan Kaia tidak sepenuhnya berada di dalam kendali protokol.

Terakhir adalah kompetisi. EVM compatibility, transaksi cepat, dan biaya rendah dapat menjadi keunggulan, tetapi bukan moat permanen. Kaia perlu menunjukkan bahwa distribution dan financial ecosystem yang dibangunnya benar-benar menghasilkan network effect.

Kesimpulan

Kaia lebih menarik jika dilihat bukan sebagai blockchain lain yang berlomba dalam angka TPS, melainkan sebagai proyek yang sedang mencoba mengubah L1 menjadi infrastruktur financial network untuk stablecoin dan onchain finance di Asia.

Fondasinya sudah cukup jelas. Kaia memiliki EVM-compatible L1 dengan fast finality, sistem token economy yang mendanai validator sekaligus ekosistem, stablecoin integrations, berbagai aplikasi keuangan, serta roadmap menuju validator participation yang lebih terbuka.

Namun bagian yang paling penting masih berada pada tahap pembuktian.

Kaia harus menunjukkan bahwa stablecoin yang masuk ke jaringan benar-benar beredar, bahwa liquidity menghasilkan aktivitas ekonomi, bahwa partnership berubah menjadi penggunaan nyata, dan bahwa pertumbuhan tersebut cukup kuat untuk menopang emission serta menciptakan hubungan ekonomi yang lebih kuat dengan KAIA.

Dengan kata lain, teknologi Kaia menjawab bagaimana jaringan bekerja, sedangkan strategi stablecoin dan onchain finance menjawab untuk apa jaringan tersebut digunakan. Pertanyaan terbesar yang masih harus dijawab adalah apakah penggunaan tersebut dapat berkembang menjadi ekonomi onchain yang berkelanjutan.

Itulah bagian yang menurut saya paling layak dipantau ketika melakukan DYOR terhadap Kaia.

Referensi

  1. Kaia — Official Website dan positioning stablecoin/onchain finance.
  2. Kaia Docs — Kaia Overview.
  3. Kaia Docs — Kaia Blockchain DLT Framework.
  4. Kaia Docs — Consensus Mechanism.
  5. Kaia Docs — Token Economy.
  6. Kaia Docs — Kaia Native Coin (KAIA).
  7. Kaia Governance Forum — GP-20: Kaia Permissionless Network Policy.
  8. Kaia Docs — Validator Onboarding.
  9. Kaia — Stablecoins on Kaia.
  10. Kaia Blog — Q2 2026 Ecosystem Round-Up.

Disclaimer

Artikel ini dibuat untuk tujuan edukasi dan dokumentasi riset. Informasi disusun berdasarkan dokumentasi dan publikasi yang tersedia pada saat penelitian dilakukan. Kondisi teknologi, tokenomics, governance, produk, partnership, dan ekosistem dapat berubah melalui pembaruan proyek atau keputusan governance.

Artikel ini bukan nasihat investasi, ajakan membeli atau menjual KAIA, maupun rekomendasi terhadap proyek tertentu. Pembaca tetap perlu melakukan riset dan verifikasi mandiri terhadap sumber resmi sebelum mengambil keputusan.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url