Avalanche: Memahami Model Blockchain Sovereign dan Avalanche L1
Ketika semakin banyak aplikasi menggunakan blockchain, muncul persoalan yang tidak sederhana: apakah semua aplikasi harus menggunakan satu jaringan dan berbagi sumber daya yang sama?
Kebutuhan sebuah game tentu berbeda dengan aplikasi DeFi atau sistem yang dirancang untuk institusi. Masing-masing dapat membutuhkan aturan, performa, biaya, validator, bahkan model ekonomi yang berbeda.
Avalanche mengambil pendekatan yang mencoba menjawab persoalan tersebut dengan cara berbeda. Alih-alih hanya menyediakan satu blockchain untuk semua aplikasi, Avalanche membangun infrastructure yang memungkinkan berbagai proyek memiliki blockchain sendiri dan tetap terhubung dengan jaringan lainnya.
Apa Itu Avalanche?
Avalanche adalah platform blockchain yang terdiri dari Primary Network dan berbagai Avalanche L1.
Primary Network merupakan fondasi Avalanche dan menjalankan tiga blockchain dengan fungsi berbeda: C-Chain, P-Chain, dan X-Chain. Di atas infrastructure tersebut, proyek dapat membangun Avalanche L1 yang lebih khusus dan memiliki karakteristik jaringan sendiri.
Karena itu, Avalanche lebih tepat dipahami sebagai infrastructure untuk ekosistem banyak blockchain, bukan hanya sebagai satu blockchain tempat pengguna menjalankan smart contract.
Gagasan tersebut menjadi semakin jelas setelah Avalanche mengembangkan model Subnet menjadi Avalanche L1.
Dari Subnet ke Avalanche L1
Sebelum Avalanche L1, proyek dapat menggunakan model yang dikenal sebagai Subnet.
Melalui upgrade Etna pada Desember 2024, model tersebut berevolusi menjadi Avalanche L1 dengan tingkat sovereignty yang lebih tinggi. Perubahan ini bukan sekadar pergantian nama, tetapi juga mengubah cara validator L1 beroperasi.
Pada model sebelumnya, validator Subnet harus menjadi validator Primary Network dan memenuhi persyaratan staking tertentu. Setelah Etna, validator Avalanche L1 tidak lagi harus melakukan staking 2.000 AVAX atau memvalidasi Primary Network.
Sebagai gantinya, validator L1 membayar continuous fee yang mekanismenya bersifat dinamis untuk berpartisipasi dalam validasi L1.
Perubahan tersebut membuat biaya dan struktur operasional untuk menjalankan blockchain khusus menjadi berbeda dari model sebelumnya.
Dengan demikian, salah satu perkembangan penting Avalanche adalah upayanya membuat pembangunan blockchain sovereign menjadi lebih fleksibel.
Apa Itu Avalanche L1?
Avalanche L1 adalah blockchain sovereign yang dapat memiliki aturan dan karakteristik jaringan sendiri.
Sebuah L1 dapat menentukan berbagai aspek seperti validator, token economics, fee regime, execution logic, state, serta mekanisme tertentu yang berkaitan dengan security dan governance.
Artinya, sebuah proyek tidak harus menerima seluruh aturan yang sudah ditentukan oleh blockchain bersama.
Misalnya, sebuah game dapat membutuhkan blockchain yang dirancang khusus untuk aktivitas gaming. Proyek lain mungkin membutuhkan konfigurasi validator atau token economics yang berbeda.
Avalanche memberikan framework dan tooling yang dapat digunakan untuk membangun L1 dengan kebutuhan tersebut.
Di sinilah konsep sovereignty menjadi penting.
Avalanche tidak hanya menawarkan tempat untuk menjalankan aplikasi. Ia mencoba memberikan kemampuan kepada proyek untuk menentukan bagaimana blockchain aplikasinya sendiri bekerja.
Mengapa Tidak Membuat Blockchain Sendiri?
Secara teori, sebuah proyek memang dapat membangun blockchain sendiri tanpa menggunakan Avalanche.
Masalahnya adalah membangun dan mengoperasikan blockchain membutuhkan lebih dari sekadar membuat smart contract. Diperlukan berbagai komponen seperti consensus, validator, networking, execution environment, tooling, dan mekanisme keamanan.
Avalanche menyediakan framework dan tooling untuk membantu proyek membangun serta menjalankan L1. Dengan demikian, proyek tidak harus mengembangkan seluruh framework blockchain dari titik nol.
Namun kemudahan membangun blockchain bukan berarti masalah selesai.
Sebuah blockchain tetap membutuhkan developer, pengguna, liquidity, validator, aplikasi, dan aktivitas ekonomi.
Infrastructure dapat membuat proses pembangunan lebih mudah, tetapi adopsi tetap harus dibuktikan melalui penggunaan nyata.
Primary Network Avalanche
Untuk memahami bagaimana Avalanche bekerja, kita perlu mengenal Primary Network.
Primary Network terdiri dari tiga blockchain.
C-Chain digunakan untuk smart contract dan kompatibel dengan Ethereum Virtual Machine atau EVM. Hal ini membuat developer dapat menggunakan Solidity serta tooling yang sudah dikenal dalam ecosystem Ethereum.
P-Chain menangani validator, staking, dan berbagai operasi yang berkaitan dengan Avalanche L1. P-Chain juga memiliki peran penting dalam koordinasi validator dan infrastructure interoperabilitas.
X-Chain digunakan untuk operasi terhadap Avalanche Native Tokens.
Pembagian tersebut membuat masing-masing chain memiliki fungsi berbeda dalam architecture Avalanche.
Namun Primary Network bukan keseluruhan Avalanche.
Perkembangan yang lebih luas berada pada hubungan antara Primary Network dan Avalanche L1.
Bagaimana Banyak L1 Tetap Terhubung?
Memiliki banyak blockchain menciptakan masalah baru: fragmentation.
Jika setiap blockchain berdiri sendiri, pengguna, aplikasi, dan liquidity berpotensi tersebar di berbagai jaringan. Blockchain yang memiliki kemampuan customization tinggi tetapi tidak dapat berkomunikasi dengan jaringan lain juga memiliki keterbatasan.
Avalanche mencoba mengatasi bagian ini melalui Avalanche Interchain Messaging atau ICM.
ICM merupakan communication protocol yang memungkinkan Avalanche L1 bertukar pesan. Pesan tersebut dapat menjadi dasar untuk berbagai penggunaan cross-chain, termasuk komunikasi aplikasi, pertukaran data, dan interaksi antarjaringan.
Pada tingkat yang lebih rendah, Avalanche Warp Messaging menyediakan primitive untuk komunikasi antar-L1. Di atasnya, ICM Contracts dan tooling terkait membantu developer membangun aplikasi yang memanfaatkan komunikasi tersebut.
Karena itu, ICM sebaiknya tidak dipahami hanya sebagai bridge.
Ia lebih tepat dipahami sebagai communication layer yang dapat digunakan aplikasi untuk membangun interaksi antar-L1.
Dengan demikian, architecture Avalanche mencoba menggabungkan dua hal yang pada awalnya terlihat bertentangan:
sovereignty antar-chain
dan
interoperability antar-chain.
Sebuah L1 dapat memiliki aturan sendiri tanpa harus menjadi jaringan yang sepenuhnya terisolasi.
AVAX dan Perannya dalam Avalanche
AVAX adalah native token Avalanche.
AVAX digunakan untuk transaction fees dan staking pada Primary Network serta memiliki fungsi penting dalam security dan operation jaringan tersebut. Maximum supply AVAX ditetapkan sebesar 720 juta token.
Salah satu karakteristik AVAX adalah transaction fees pada Primary Network dibakar.
Namun burn tidak berarti supply AVAX otomatis selalu mengalami deflasi.
Avalanche juga menerbitkan AVAX sebagai validator rewards. Selama supply masih berada di bawah batas maksimum, issuance tersebut dapat membuat supply tetap bertambah meskipun sebagian AVAX dibakar.
Karena itu, memahami tokenomics AVAX membutuhkan perbandingan antara emission dan burn, bukan hanya melihat keberadaan mekanisme burn.
Avalanche L1 Tidak Berarti Semua Aktivitas Menggunakan AVAX
Ini merupakan bagian penting ketika menganalisis hubungan antara ecosystem Avalanche dan token AVAX.
Avalanche L1 dapat memiliki native token dan token economics sendiri. Artinya, sebuah L1 yang berkembang tidak otomatis berarti seluruh aktivitas ekonominya harus menggunakan AVAX.
Di sinilah kita perlu membedakan:
ecosystem growth
dengan
AVAX value accrual.
Keduanya dapat memiliki hubungan, tetapi hubungan tersebut tidak boleh diasumsikan sebagai hubungan satu banding satu.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Seberapa besar pertumbuhan aktivitas Avalanche L1 benar-benar menciptakan demand terhadap AVAX?
Jawabannya perlu dicari melalui mekanisme ekonomi dan data penggunaan, bukan hanya melalui jumlah proyek yang dibangun menggunakan Avalanche.
Apa yang Menarik dari Model Avalanche?
Ada tiga gagasan utama yang membuat pendekatan Avalanche menarik.
Sovereignty
Proyek dapat memiliki blockchain dengan aturan dan karakteristik yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka.
Scalability melalui Banyak Blockchain
Workload dapat dipisahkan ke berbagai jaringan sehingga aplikasi tidak harus seluruhnya berbagi blockspace pada satu blockchain.
Interoperability
ICM menyediakan mekanisme komunikasi yang memungkinkan jaringan berbeda dalam ecosystem Avalanche berinteraksi.
Ketiganya membentuk sebuah pendekatan yang dapat disederhanakan menjadi:
Build → Customize → Connect
Bangun blockchain.
Sesuaikan dengan kebutuhan.
Hubungkan dengan jaringan lainnya.
Tetapi Apa Risikonya?
Model tersebut juga memiliki konsekuensi.
Fragmentation
Semakin banyak L1, semakin besar potensi liquidity dan pengguna tersebar.
Jika terlalu banyak jaringan memiliki aktivitas yang rendah, jumlah blockchain yang besar tidak otomatis berarti ecosystem yang kuat.
Adoption
Kemudahan membuat L1 tidak menjamin adanya pengguna.
Sebuah proyek tetap harus membangun produk yang benar-benar digunakan dan menciptakan aktivitas ekonomi.
Security dan Validator Economics
Sovereignty memberikan kebebasan, tetapi setiap L1 tetap membutuhkan model validator dan security yang sesuai dengan kebutuhan jaringan.
L1 tidak dapat hanya mengandalkan infrastructure tanpa mempertimbangkan bagaimana network-nya diamankan dan bagaimana validator diberi insentif.
Competition
Avalanche bukan satu-satunya ecosystem yang menawarkan pendekatan blockchain khusus atau application-specific chain.
Karena itu, keberhasilan Avalanche juga bergantung pada apakah infrastructure yang ditawarkannya memberikan keunggulan yang cukup dibandingkan alternatif lainnya.
AVAX Value Accrual
Pertumbuhan ecosystem tidak otomatis menghasilkan pertumbuhan demand AVAX dalam proporsi yang sama.
Jika L1 menggunakan token economics sendiri, maka hubungan antara penggunaan L1 dan value accrual AVAX perlu dianalisis secara khusus.
Apa yang Perlu Diamati?
Untuk menguji apakah tesis Avalanche benar-benar berjalan, jumlah L1 saja tidak cukup.
Beberapa indikator yang lebih relevan antara lain:
jumlah L1 yang benar-benar aktif;
pengguna aktif;
transaction activity;
liquidity;
stablecoin activity;
developer activity;
jumlah dan aktivitas validator;
cross-chain messaging;
economic activity;
serta hubungan aktivitas ecosystem dengan demand terhadap AVAX.
Yang perlu dibedakan adalah jumlah infrastructure yang dibuat dengan jumlah infrastructure yang benar-benar digunakan.
Sebuah ecosystem dapat memiliki banyak L1 tetapi hanya sebagian kecil yang memiliki pengguna dan economic activity yang berarti.
Jadi, Apa Sebenarnya Tesis Avalanche?
Avalanche bukan sekadar mencoba menjadi blockchain lain untuk menjalankan smart contract.
Tesis yang lebih penting adalah bahwa aplikasi dan ecosystem yang berbeda mungkin membutuhkan blockchain dengan karakteristik berbeda.
Karena itu, Avalanche menyediakan infrastructure agar proyek dapat membangun blockchain sovereign sendiri, sementara Primary Network dan ICM menyediakan bagian dari infrastructure yang memungkinkan jaringan tersebut tetap terhubung.
Model tersebut menawarkan sebuah trade-off.
Di satu sisi, proyek mendapatkan sovereignty, customization, dan kemampuan untuk mengisolasi workload.
Di sisi lain, semakin banyak blockchain dapat menciptakan fragmentation dan membuat adoption menjadi tantangan yang lebih besar.
Dengan kata lain, Avalanche mencoba menyelesaikan masalah shared blockchain dengan pendekatan many sovereign blockchains.
Namun pendekatan tersebut hanya akan terbukti jika blockchain yang dibangun benar-benar digunakan.
Kesimpulan
Avalanche menawarkan cara berbeda untuk membangun ecosystem blockchain.
Daripada seluruh aplikasi bergantung pada satu blockchain dengan aturan yang sama, Avalanche memungkinkan proyek membangun L1 yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka.
C-Chain menyediakan environment EVM pada Primary Network. P-Chain menangani validator dan berbagai fungsi platform. X-Chain menangani native assets. Sementara Avalanche L1 memberikan ruang bagi proyek untuk membangun blockchain yang lebih sovereign.
ICM kemudian menjadi bagian penting dari pendekatan tersebut dengan menyediakan communication infrastructure antar-L1.
Namun teknologi dan kemampuan membangun banyak blockchain bukanlah akhir dari cerita.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah proyek-proyek tersebut mendapatkan pengguna, liquidity, developer, dan economic activity yang cukup untuk membuat model tersebut berkelanjutan.
Untuk AVAX, pertanyaannya bahkan lebih spesifik:
Seberapa besar aktivitas yang tercipta dari ecosystem Avalanche benar-benar menghasilkan demand dan value accrual terhadap AVAX?
Itulah hal yang perlu diamati.
Avalanche mungkin menawarkan infrastructure yang memungkinkan lebih banyak blockchain dibangun.
Tetapi keberhasilan model tersebut pada akhirnya tidak ditentukan oleh berapa banyak blockchain yang dapat dibuat.
Ia ditentukan oleh berapa banyak yang benar-benar digunakan.
Referensi
Avalanche — Official Website
https://www.avax.com/Avalanche Builder Hub
https://build.avax.network/Primary Network
https://build.avax.network/docs/primary-networkAvalanche L1
https://build.avax.network/docs/avalanche-l1sAvalanche Interchain Messaging
https://build.avax.network/docs/cross-chain/avalanche-warp-messaging/overviewICM Contracts
https://build.avax.network/docs/cross-chain/icm-contracts/overviewAVAX Token
https://build.avax.network/docs/primary-network/avax-tokenEtna Upgrade
https://build.avax.network/blog/etna-enhancing-sovereignty-avalanche-l1sSubnet vs L1 Validators
https://build.avax.network/blog/subnet-vs-l1-validators
Disclaimer
Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan informasi berdasarkan dokumentasi resmi serta informasi publik yang tersedia. Artikel bukan merupakan nasihat investasi, rekomendasi finansial, maupun ajakan untuk membeli atau menjual aset crypto.
Pembaca tetap dianjurkan melakukan riset mandiri (DYOR — Do Your Own Research) sebelum mengambil keputusan.
