Memahami Aave: Protokol Lending dan Borrowing di DeFi

Ilustrasi pasar keuangan digital terdesentralisasi, dengan aset kripto mengalir dari liquidity pool menuju pengguna peminjam. yesetoy


Aave adalah protokol DeFi lending dan borrowing yang memungkinkan pengguna meminjamkan dan meminjam aset kripto melalui smart contract. Tidak seperti sistem keuangan tradisional yang menggunakan bank sebagai perantara, Aave menjalankan pasar likuiditasnya melalui smart contract pada blockchain yang didukung.

Konsep dasarnya cukup sederhana. Pengguna dapat menyediakan aset ke liquidity pool untuk mendapatkan bunga, sementara pengguna lain dapat meminjam aset tersebut dengan memberikan collateral.

Bagaimana Aave Bekerja?

Ada dua aktivitas utama dalam Aave: supply dan borrow.

Ketika pengguna melakukan supply, aset mereka masuk ke liquidity pool Aave dan tersedia untuk dipinjam oleh pengguna lain. Sebagai representasi atas posisi supply tersebut, pengguna menerima aTokens. Aset yang disediakan dapat menghasilkan bunga sesuai kondisi pasar.

Di sisi lain, pengguna yang ingin meminjam harus terlebih dahulu menyediakan collateral.

Sistem ini menggunakan overcollateralized borrowing, yang berarti nilai collateral harus lebih besar daripada nilai aset yang dipinjam. Persyaratan tersebut digunakan untuk memberikan perlindungan terhadap perubahan harga aset.

Secara sederhana:

Supply → Liquidity Pool → Borrow → Interest

Supplier menyediakan likuiditas, sedangkan borrower menggunakan likuiditas tersebut dengan membayar bunga.

Dari Mana Bunga Aave Berasal?

Bunga pada Aave tidak merupakan imbal hasil tetap.

Salah satu faktor penting yang memengaruhi interest rate adalah utilization rate, yaitu seberapa besar bagian liquidity pool yang sedang digunakan untuk borrowing.

Ketika permintaan borrowing meningkat dan sebagian besar liquidity digunakan, tingkat bunga dapat meningkat. Sebaliknya, ketika banyak aset masih tersedia di dalam pool, tingkat bunga dapat menurun.

Dengan demikian, yield yang diterima supplier berasal dari aktivitas borrowing di dalam pasar, bukan dari sumber yang muncul tanpa adanya aktivitas ekonomi.

Mengapa Borrower Harus Memberikan Collateral?

Collateral merupakan bagian penting dari desain Aave.

Ketika pengguna meminjam aset, mereka harus mempertahankan nilai collateral sesuai parameter yang ditentukan protokol. Setiap aset memiliki parameter risiko seperti Loan-to-Value (LTV) dan liquidation threshold.

Jika nilai collateral turun cukup jauh sehingga posisi tidak lagi memenuhi persyaratan, posisi tersebut dapat mengalami liquidation.

Dalam proses tersebut, liquidator dapat melunasi sebagian utang dan memperoleh bagian dari collateral sesuai mekanisme protokol.

Dengan demikian, pengguna yang memanfaatkan Aave untuk leverage tidak hanya menghadapi risiko perubahan harga, tetapi juga risiko liquidation.

Aave V3

Aave V3 merupakan versi protokol yang saat ini berada dalam production.

V3 menyediakan mekanisme untuk mengatur efisiensi modal dan risiko pada berbagai aset. Beberapa mekanismenya mencakup E-Mode, Isolation Mode, supply caps, dan borrow caps.

E-Mode memungkinkan kategori aset tertentu memperoleh parameter borrowing yang lebih efisien. Sementara itu, Isolation Mode membatasi risiko dari aset tertentu dengan memberikan batasan terhadap jenis dan jumlah utang yang dapat dibuat menggunakan aset tersebut sebagai collateral.

Bagi pengguna pemula, inti yang perlu dipahami adalah bahwa setiap aset tidak diperlakukan dengan parameter risiko yang sama.

Aave juga sedang mengembangkan Aave V4 sebagai evolusi berikutnya dari protokol. Deployment V4 telah menjadi bagian dari pengembangan produksi, sementara ekspansi ke jaringan seperti Avalanche masih melalui proses aktivasi dan governance.

Apa Itu GHO?

Selain menyediakan pasar lending dan borrowing, Aave juga memiliki stablecoin native bernama GHO.

GHO adalah stablecoin terdesentralisasi dan overcollateralized yang dirancang untuk mempertahankan nilai terhadap dolar AS. Pengguna dapat meminjam GHO dengan menyediakan collateral yang memenuhi persyaratan protokol.

Salah satu karakteristik GHO adalah integrasinya langsung dengan ekosistem Aave. Bunga yang dibayarkan oleh peminjam GHO masuk ke Aave DAO treasury.

GHO juga memiliki facilitators, yaitu entitas atau protokol yang mendapatkan otorisasi dari Aave DAO untuk melakukan mint dan burn GHO dalam batas tertentu.

Hal ini menunjukkan bahwa Aave tidak hanya menyediakan infrastruktur lending, tetapi juga membangun komponen ekonomi sendiri di dalam ekosistemnya.

Apa Fungsi AAVE?

AAVE adalah token yang berperan dalam governance Aave.

Governance Aave memungkinkan komunitas berpartisipasi dalam pengambilan keputusan mengenai perkembangan protokol. Voting power dapat berasal dari AAVE, stkAAVE, dan aAAVE, termasuk melalui mekanisme delegasi.

Governance dapat membahas berbagai hal seperti perubahan parameter, pengembangan fitur, dan perubahan protokol.

Karena itu, AAVE sebaiknya tidak dipahami hanya sebagai token yang mengikuti aktivitas DeFi. Salah satu fungsi pentingnya adalah partisipasi dalam pengelolaan protokol.

Bagaimana Aave Mengelola Risiko?

Lending dan borrowing membawa risiko yang tidak dapat dihilangkan sepenuhnya.

Aave menggunakan berbagai parameter dan mekanisme untuk mengelola risiko, termasuk LTV, liquidation threshold, supply caps, borrow caps, E-Mode, dan Isolation Mode. Aave juga memiliki Risk Stewards yang dapat menyesuaikan parameter risiko tertentu dalam batas yang telah ditentukan.

Namun, mekanisme keamanan tersebut tidak berarti risiko menjadi nol.

Pengguna tetap menghadapi risiko smart contract, volatilitas aset, liquidation, oracle, dan kondisi likuiditas.

Dari Mana Nilai Aave Berasal?

Untuk memahami Aave sebagai sebuah proyek, kita perlu melihat aktivitas ekonominya.

Supplier menyediakan liquidity karena memperoleh bunga. Borrower menggunakan liquidity karena membutuhkan akses terhadap modal tanpa harus menjual seluruh aset yang dimilikinya.

Dari aktivitas tersebut terbentuk sebuah pasar:

Liquidity → Borrowing → Interest → Risk Management

Semakin banyak aktivitas ekonomi yang benar-benar terjadi di dalam protokol, semakin penting pula infrastruktur Aave sebagai pasar likuiditas on-chain.

Namun, aktivitas tersebut juga harus dibarengi dengan manajemen risiko. Pertumbuhan liquidity dan borrowing tanpa pengelolaan risiko yang baik justru dapat meningkatkan potensi kerugian.

Kesimpulan

Aave adalah protokol DeFi yang mencoba membangun pasar pinjam-meminjam langsung melalui smart contract.

Supplier menyediakan aset ke liquidity pool dan memperoleh bunga, sementara borrower dapat mengakses likuiditas dengan memberikan collateral. Jika nilai collateral turun melewati parameter yang ditentukan, posisi dapat mengalami liquidation.

Aave V3 menjadi versi yang saat ini berada dalam production, sementara pengembangan V4 diarahkan untuk menjadi evolusi berikutnya dari protokol. Di sisi lain, GHO menjadi stablecoin native yang terintegrasi dengan protokol, sementara AAVE berperan penting dalam governance.

Bagi pembaca pemula, hubungan sederhananya adalah:

Supply → Liquidity → Borrow → Interest → Collateral → Liquidation

Inilah inti Aave.

Aave bukan sekadar tempat untuk mendapatkan yield. Ia mencoba membangun infrastruktur pasar kredit on-chain, dengan liquidity berasal dari pengguna, borrowing dijalankan oleh smart contract, dan parameter pasar serta risiko dikelola melalui protokol dan governance.

Referensi

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url